Jakarta,
2 Juni 2026 - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca
perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta pada April
2026. Dengan demikian, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca
perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Sementara itu, secara kumulatif pada Januari-April 2026, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,64 miliar.
Deputi
Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini
mengatakan bahwa Indonesia berhasil mencatat surplus pada April setelah
nilai ekspor melebihi nilai impor. Pada bulan tersebut, Indonesia
mencatat ekspor sebesar USD 25,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan nilai
impor sebesar USD 25,21 miliar.
"Setelah melihat perkembangan
ekspor dan impor, maka neraca perdagangan barang untuk April 2026
mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia
dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut
sejak Mei 2020," ujar Pudji dalam rilis Berita Resmi Statistik, Selasa
(2/6).
Dari sisi ekspor, Pudji menambahkan bahwa nilai ekspor
Indonesia sebesar USD 25,32 miliar mencerminkan pertumbuhan 21,98 persen
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini, lanjutnya,
didorong oleh pertumbuhan signifikan ekspor nonmigas yang nilainya pada
April mencapai USD 24,15 miliar atau tumbuh 23,36 persen dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tajam ini, imbuh
Pudji, terutama disumbang oleh ekspor lemak dan minyak hewani/nabati
yang tumbuh 66,59 persen secara tahunan, nikel dan barang daripadanya
sebesar 75,52 persen, serta mesin dan peralatan mekanis sebesar 57,90
persen.
Pudji menjabarkan bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas pada
April didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah kenaikan harga
minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15,45 persen secara tahunan menjadi
USD 1.148 per metrik ton, serta kenaikan harga komoditas mineral dan
energi secara umum.
Selain itu, kenaikan ekspor juga didorong
oleh ekspansi sektor manufaktur di negara-negara mitra dagang utama
Indonesia, yang tercermin dari indeks PMI manufaktur mereka yang berada
di zona ekspansif.
Ketika suatu negara memiliki sektor manufaktur
yang ekspansif, negara tersebut cenderung meningkatkan impor bahan baku
dan barang setengah jadi dari negara lain untuk menunjang proses
produksinya.
"Pada April, PMI Manufaktur negara mitra dagang
utama seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok berada pada
zona ekspansif, di mana PMI India adalah 54,7, kemudian Amerika Serikat
54,5, Jepang 55,1, dan Tiongkok 52.2," tambahnya.
Sementara itu,
dari sisi impor, nilai impor Indonesia yang mencapai USD 25,21 miliar
pada April atau tumbuh 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya.
Namun, meski pertumbuhan impor pada April lebih
tinggi dibandingkan ekspor, sebagian besar peningkatan tersebut
disumbang oleh impor bahan baku dan barang penolong.
Menurut
Pudji, impor kelompok barang tersebut pada April mencapai USD 18,65
miliar atau tumbuh 24,56 persen dari USD 14,97 miliar pada bulan yang
sama tahun sebelumnya. Kondisi ini justru mencerminkan bergeliatnya
industri manufaktur domestik.
"Jadi secara rinci, nilai impor
migas pada April sebesar USD 4,60 miliar, atau meningkat 82,52 persen
secara tahunan, sedangkan nilai impor nonmigas adalah senilai USD 20,6
miliar atau mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11 persen,"
pungkas dia. Rill/Red
.jpeg)
0Komentar